Mengenang Sang Nakhoda NKRI

Home Artikel Mengenang Sang Nakhoda NKRI

Mengenang Sang Nakhoda NKRI
06 Jun 2019

Mengenang Sang Nakhoda NKRI

NKRI


Tepat tanggal 6 Juni di Surabaya 118 tahun silam atau tahun 1901, lahir seorang putra terbaik bangsa. Dialah Soekarno yang kemudian dikenal sebagai Bung Karno, Sang Proklamator dan Pemimpin Besar Revolusi.

Sejak masa pergerakan nasional, putra Raden Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Nyoman Rai ini sudah memikirkan bagaimana nasib bangsa Indonesia ke depan. Di bawah tempaan Sang Guru Bangsa, HOS Tjokroaminoto, Soekarno muda bersama rekan-rekan seperjuangannya sudah menggagas grand design negara Indonesia sebagai negara yang besar dan memperjuangkan umat manusia.

Termasuk dalam gagasan Indonesia sebagai negara maritim yang digdaya untuk meneruskan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Cita-cita itu sudah ada dalam benak pemuda yang memiliki nama kecil Kusno tersebut.

Kendati tidak memiliki background pendidikan maritim di zamannya, pendiri Partai Nasionalis Indonesia (PNI) itu ternyata memiliki ocean leadership dalam jiwanya. Usai bangsa ini merdeka pada 17 Agustus 1945 dengan dasar Pancasila, konsep geopolitik Indonesia sudah mulai diperkenalkan olehnya yang di kemudian hari dikenal dengan istilah Wawasan Nusantara.

Setelah menginisiasi Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 dan dilanjutkan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Bung Karno menitik beratkan kemaritiman dalam pola pembangunan Indonesia. Selain menasionalisasi beberapa perusahaan milik Belanda yang bergerak di bidang maritim, Bung Karno juga concern dengan pembangunan SDM maritim yang mumpuni. Di antaranya dengan mendirikan Institut Angkatan Laut (IAL) di Surabaya tahun 1953 dan Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) di Jakarta tahun 1957.

Presiden yang kerap dijuluki Paduka Yang Mulia (PYM) itu menyadari bahwa SDM adalah modal utama dalam membangun suatu bangsa. Termasuk cita-cita mewujudkan bangsa maritim, maka SDM maritim mutlak harus terpenuhi terlebih dahulu.

Baru selanjutnya, mengenai numenklatur good maritime geovernance digagas untuk merumuskan kebijakan-kebijakan strategis di dalam membangun kemaritiman nasional. Tercatat dalam sejarah, pada 23 September 1963, Bung Karno selaku Pemimpin Besar Revolusi menggelar Musyawarah Nasional Maritim pertama di sekitar Tugu Tani, Jakarta.

Seluruh stakeholder maritim nasional hadir dalam acara tersebut untuk memberikan kontribusinya dalam arah pembangunan maritim. Di momen itu pula, Bung Karno disematkan menjadi Nakhoda Agung NKRI yang bercita-cita menajdi negara maritim yang besar.

Hari itu pula oleh Bung Karno diperingati sebagai Hari Bahari Nasional lewat Surat Keputusan Presiden RI Nomor 249/1964 tentang Penetapan Hari Maritm yang terus diperingati setiap tahun oleh pemimpin berikutnya. Namun seiring berjalannya waktu, sejarah besar itu bak tertelan bumi seiring perubahan mindsetpembangunan bangsa Indonesia.

Untuk mengingatkan kembali peristiwa itu, sekaligus sebagai sarana pembangunan karakter maritim untuk usia dini, Deputi IV Kemenko Maritim pernah bekerja sama dengan RRI mengangkat kisah itu dalam sebuah sandiwara radio.

Di-launching pertama kali pada 27 Februari 2017, episode pertama berjudul ‘Nakhoda Agung’ dipentaskan. Drama Dapunta dengan tokoh utamanya seorang gadis bernama Dapunta. Nama tokoh itu diambil dari nama Raja pertama Kerajaan Sriwijaya, yang merupakan kerajaan maritim pertama di Nusantara.

Kembali Jadi Bangsa Samudra

Dalam acara Musyawarah Nasional Maritim I, 23 September 1963 di Jakarta, Bung Karno berpidato dengan judul “Kembalilah Mendjadi Bangsa Samudera!”. Amanat Presiden itu terekam dalam arsip Departemen Penerangan RI. Garis besar isi pidato tersebut antara lain berisi soal kisah kejayaan bahari Nusantara dulu yang kemudian coba diimplementasikan dalam kehidupan saat ini.

Berikut penggalan pidatonya:

“Tatkala saya melantik saudara Martadinata menjadi Kepala Staf Angkatan Laut di muka Istana Merdeka, pada waktu itu sudah saya sebut sedikit keterangan mengenai perkataan bahari, zaman bahari.

Yang kita maksudkan dengan perkataan zaman bahari ialah zaman purbakala, zaman dahulu, zaman kuno, zaman yang lampau itu kita namakan zaman bahari.

Apa sebab? Sebabnya ialah kita di zaman yang lampau itu adalah satu bangsa pelaut. Bahar, elbaher artinya laut. Zaman bahari berarti zaman kita mengarungi bahar, zaman kita mengarungi laut, zaman tatkala kita adalah bangsa pelaut.”

Bung Karno meyakinkan…

“Kita ini dahulu benar-benar bangsa pelaut. Bahkan bangsa kita ini sebenarnya tersebar melintasi lautan dari satu pokok asal.

Tersebar melintasi lautan, mendiami pulau-pulau antara pulau Madagaskar dan pulau Paskah dekat Amerika Selatan.Melewati beribu-ribu mil, melewati samudera, bahar, yang amat luas sekali.

Di situlah bersemayam sebenarnya bangsa Indonesia…itu adalah satu gugusan bangsa bangsa yang boleh dikatakan sama bahasanya, sama adat istiadatnya, sama pokok-pokok isi spirituil.

Bahasanya banyak yang sama. Banyak kata-kata yang diucapkan oleh orang Madagaskar kita temui kembali di Sumatera, Jawa, Kalimantan, di Timor, di Paskah itu, di selatan dari pada Philipina.

Misalnya ambillah satu contoh; bambu. Di Jawa ada yang mengatakan wuluh, di Sumatera mengatakan buluh, di Philipina orang mengatakan uluh, di Madagaskar orang berkata uluh, di Easter Island, pulau Paskah orang mengatakan boloh.”

Bung Karno pun menjelaskan teknologi melaut…

“Mengenai laut, yah perahu-perahu yang bersayap. Out-wriggled boats, kata orang Belanda vlerkprauwen.

Out-wriggled boats, saudara tidak akan temukan perahu bersayap itu misalnya di Amerika atau di Polandia atau di Jepang atau di Eropa, tidak.

Saudara akan temukan out-wriggled boatsvlerkprauwen, perahu sayap di Madagaskar, di Kepulauan Indonesia, di Polynesia sampai pulau Paskah.

Ini semua menunjukkan bahwa kita itu adalah sebenarnya satu gugusan bangsa, antara Madagaskar dan pulau Paskah.”

Dulu, lanjut Bung Karno dengan artikulasi suaranya yang khas, “kita betul-betul laksana sea hawksacral baharsaker elbaherhavik van de zeehawk on the seaHawk on the sea, kita terbang dari satu pulau ke pulau lain.”   

Namun, “belakangan kita menjadi satu bangsa yang berdiam adem-adem di lereng-lereng gunung. Belakangan, saudara-saudara, tatkala kita terdesak dari pantai-pantai oleh bangsa asing yang mendiami pantai-pantai kita, kita menjadi bangsa yang hidup adem tentrem di lereng-lereng gunung, adem tentrem kadiya siniram banyu wayu sewindu lawas.”

Lebih jauh lagi, Bung Karno merawi legenda dan merumuskan kode-kode rahasia semiotiknya.

“Tahukah saudara-saudara, menurut dongeng Sang Mahapatih Gajahmada itu matinya di mana?” Presiden Indonesia pertama membuka tanya. (Semua diam)

Kemudian panjang lebar dia meneruskan…

“Coba buka kitab sejarah. Tanya kepada ahli sejarah kita, di mana Gajahmada mati?Tidak ada seorang bisa menjawab.

Tetapi dongeng, mitologi, mitologi kita, mitos kita berkata, Gajahmada kembali ke laut, hilang di laut atau menghilang di laut.

Ini menggambarkan penjunjungan tinggi dari pada bangsa Indonesia kepada laut.

Bahkan tatkala saya melantik saudara Martadinata menjadi Kepala Staf Angkatan Laut, pada waktu itu saya menceritakan hal mitos yang belakangan terjadi sejak Kerajaan Mataram yang kedua.

Menjadi tradisi sejak Kerajaan Mataram yang kedua itu, tradisi yang mengatakan bahwa raja hanyalah bisa menjadi raja yang besar dan kuat, negara bisa menjadi besar dan kuat, ratu hanyalah bisa menjadi ratu yang hanyakrawarti hambahudenda, jikalau sang ratu itu beristerikan pula Ratu Loro Kidul, ratu dari Lautan Selatan, ratu dari samudera yang dulu bernama Samudera Hindia, tetapi kemudian kita robah dengan nama Samudera Indonesia, saudara-saudara…”

Sang proklamator kemerdekaan Indonesia melanjutkan rumusan tentang apa yang disebutnya dongeng, legenda, mitologi itu.

“Benar apa tidak, itu adalah lain perkara, saudara-saudara.

Apakah benar Sang Senopati, Sang Senopati Hangabei Loringpasar Sutowidoyo, Sutawijaya, yang mendirikan Kerajaan Mataram, benar atau tidak, yaitu benar-benar kawin dengan Ratu Loro Kidul?

Itu bukan soal sebetulnya bagi kita.

Tetapi nyata bahwa ini berisi satu simbolik, kepercayaan ini berisi satu simbolik bahwa tidak bisa seseorang raja, bahwa tidak bisa sesuatu negara di Indonesia ini menjadi kuat jikalau tidak dia punya raja kawin beristrikan Ratu Loro Kidul.”

Menurut Soekarno, simbolik ini berarti bahwa negara hanya bisa menjadi kuat, negara Indonesia hanyalah bisa menjadi kuat jikalau ia juga menguasai lautan.

“Jikalau negara di Indonesia ingin menjadi kuat, sentosa, sejahtera, maka dia harus kawin juga dengan laut,” demikian paparan Bung Karno.

Esok harinya, surat kabar memberitakan inilah Akademi Pelayaran pertama di Indonesia.

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar